Refleksi Diri Kita Sebagai Orangtua

Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara yang mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa, karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih.   Helen Keller

Kemampuan seorang anak untuk berkembang dewasa dan menjalani kehidupan bermakna atau sekedar “menjalankan hidup” ditentukan oleh kualitas pengasuhan orangtuanya.

Kualitas pengasuhan ditentukan oleh seberapa banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan manusia.

-Ariesandi Setyono, Pakar Hypnoparenting

Kita sebagai orangtua seringkali merasa jika kebijaksanaan dalam mendidik anak otomatis muncul seiring bertambahnya usia. Dan kita merasa tahu dan paham secara sadar apa yang dibutuhkan anak kita.

Namun seringkali kita tidak menyadari bahwa kebanyakan dari kita para orangtua adalah mengulangi pola didikan orangtua kita kepada kita. Hal ini karena bagaimana cara orangtua kita memperlakukan kita, terekam dalam pikiran alam bawah sadar kita pada saat masa anak-anak kita, karena hal ini berlangsung secara berulang-ulang. Dan kemudian, tanpa kita sadari, kita terapkan kembali pada anak kita.

Sebagai bukti, coba kita ingat, hal-hal apa yang membuat kita kesal pada anak kita dan cara kita memarahi anak kita. Kemudian kita bandingkan dengan apa yang dilakukan orangtua kita kepada kita. Apakah ada kesamaan?

Barangkali kita baru sadar, jika kita sesungguhnya melanjutkan pola didikan orang tua kita. Oleh sebab itu kita perlu terus belajar dan membaca buku berkualitas tentang pendidikan anak, dengan tujuan untuk mengevaluasi cara kita mendidik anak. Apakah hal yang kita terapkan pada anak kita efektif atau tidak.

Karakter anak adalah hasil bentukan, bukan sekedar bawaan lahir. Ada yang mengatakan bahwa anak ibarat kertas kosong (tabula rasa), ini adalah pandangan yang kurang tepat. Lebih tepatnya, anak seperti sebuah media, tempat pelukis (dalam hal ini orangtua) menorehkan cat lukis. Untuk dapat menghasilkan lukisan yang indah, pelukis harus mengenal media yang digunakan, apakah terbuat dari kertas, kanvas, kain, kaca, logam, keramik, tembok atau media lainnya, dan jangan lupa menggunakan bahan dan teknik lukis yang sesuai dengan media yang digunakan.

Orangtua adalah figur otoritas, apa yang kita katakan pasti akan masuk ke pikiran bawah sadar anak dengan mudah, karena itu kita harus selalu menggunakan kata kata positif. Waktu kita menghukum dalam rangka mendidik atau mendisiplinkan anak, tegurlah kesalahannya, tetapi jangan serang pribadinya. Dan yang menjadi fokus didikan tetap anak, bukan nama baik kita, reputasi kita atau harga diri kita.

Contoh : saya marah dengan anak saya dengan mengatakan, “Mama malu kamu berbuat begitu, kamu bikin malu keluarga, merusak nama baik keluarga kita!”. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya yang menjadi fokus adalah saya, yang saya pertahankan, yang saya kasihi, bukanlah si anak, tetapi diri saya sendiri, nama baik saya, dan harga diri saya. Jika yang menjadi fokus didikan adalah anak saya, bukan nama baik saya, bukan reputasi dan harga diri saya, maka sebaiknya saya mengatakan, “Mama tidak rugi apa-apa kalau kamu berbuat seperti itu, tetapi yang akan rusak adalah badanmu sendiri, masa depanmu dan reputasimu akan hancur kalau kamu seperti itu”

Anak yang mendapatkan kasih sayang, penerimaan apa adanya, kasih tanpa syarat, akan betah di rumah, kuat menghadapi penolakan dan berani berkata tidak kepada lingkungan yang negatif. Kita berusaha untuk menciptakan lingkungan yang positif dengan menerima keadaan anak apa adanya, jangan membandingkan anak, fokus didikan tetap anak, imbang antara rewards & punishment, mengampuni dan melupakan, memberi kesempatan dan kepercayaan, serta membina anak dengan bijaksana.

Anak yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang negatif, yang tidak mendapatkan penerimaan dan kasih sayang yang cukup, akan mencari penerimaan di luar rumah. Dan ada kecenderungan untuk anak-anak yang mengalami penolakan di rumah, berani “membayar harga” untuk diterima lingkungannya, dengan mengatakan “ya” kepada lingkungannya. Jika lingkungannya meminta dia merokok, gaya punk, bertato, menggunakan narkoba, bahkan melakukan hubungan sex, dia akan melakukannya.

 

Seringkali kita terlalu fokus pada pemberian makanan bernutrisi, hal ini tentu sangat baik. Namun kita perlu menyadari bahwa di sisi lain, manusia adalah makhluk yang unik dan kompleks dengan beberapa aspek saling terkait, yaitu tubuh fisik, mental dan emosi (psikologis). Pemberian nutrisi makanan harus memenuhi kebutuhan rasa lapar dan dahaga pada seluruh aspek kehidupan anak, sehingga terjadi pertumbuhan yang seimbang.

Makanan bernutrisi memang penting untuk pertumbuhan fisik, namun satu hal paling penting yang dibutuhkan setiap anak adalah rasa aman dan cinta. Rasa aman adalah fondasi untuk mengembangkan segenap potensi diri. Tanpa rasa aman anak akan sulit untuk bisa bertumbuh mencapai potensi diri yang maksimal.

Salah satu upaya membantu pertumbuhan anak adalah dengan banyak memberi sentuhan fisik. Dr. Ashley Montaque, penulis buku Touching, mengatakan bahwa anak yang tidak mendapatkan atau menerima cukup cinta, yang tidak disentuh atau diajak bicara secara rutin, dapat berhenti bertumbuh. Hasil foto sinar x menunjukkan adanya periode perlambatan atau pertumbuhan tulang yang minim yang terjadi saat anak merasa diabaikan atau kesepian. Tanpa dukungan cinta atau rasa aman, tubuh mulai berhenti bertumbuh.

Kesepian tidak berarti anak ditinggal sendiri. Kesepian saat ini banyak dialami anak di tengah keramaian keluarga. Orangtua yang sibuk, baik sibuk dengan pekerjaan atau gadget, sering secara tidak sengaja telah mengabaikan kebutuhan anak untuk diperhatikan, diajak bicara/diskusi, disentuh, diajak bermain, dll. Walaupun orangtua telah memberi waktu, menemani anak, namun sering terjadi anak merasa kesepian atau diabaikan karena tidak terjadi interaksi secara emosi. Interaksi secara emosi ini yang sangat penting dan dibutuhkan oleh anak. Kedekatan fisik adalah satu hal yang berbeda dengan kedekatan secara emosi.

Tidak ada orangtua yang sempurna, adanya kemauan untuk menjadi orangtua yang baik, itulah orangtua yang baik. Kita berusaha dan berjuang untuk menjadi orangtua yang baik, mendidik dan mendampingi anak dengan benar sesuai dengan keunikan, kelebihan, dan kekuatan anak, dengan mengasihi mereka, mendengarkan mereka, berusaha seadil mungkin dalam mengambil keputusan, memberikan waktu kita, namun yang tak kalah pentingnya adalah selalu mohon rahmat Tuhan untuk memberikan kebijaksanaan dalam diri kita, sehingga kita mampu untuk menjalankan tugas kita sebagai orangtua dari anak yang Tuhan percayakan pada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *