Swadaya

Prestasi gemilang pernah terukir dalam sejarah republik ini, dari peng-impor beras nomor wahid menjadi peng-ekspor beras kelas dunia, kelas dunia karena bukan jual beli antar pulau dan antar propinsi tetapi sudah antar Negara, tetapi sayangnya prestasi yang sangat membanggakan tersebut hanya terjadi dalam satu decade dan berhenti dalam dekade berikutnya sampai saat ini.

Tentunya prestasi emas tersebut diraih dengan susah payah dan penuh perjuangan, baik oleh pejabat ditingkat pusat maupun daerah dan para petani yang berada dimedan perjuangan; selain masuknya devisa asing kedalam pundi-pundi Negara, sekurang-kurangnya ada 2 (dua) hal yang digaris-bawahi yakni mengisi Rekaman Sejarah Bangsa dan Pencapaian Prestasi Swasembada beras.

Rekaman sejarah bangsa, hal tersebut dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk mengulang dan memperjuangkan kembali prestasi besar yang pernah dicapai tersebut; dan dengan Indonesia dapat meng-ekspor beras tentunya kebutuhan beras untuk rakyatnya sudah dapat tercukupi dengankekuatannya (potensinya) sendiri, yang lazim dikenal dengan istilah SWASEMBADA.

Namun ‘bagai disambar petir disiang hari’ ketika kita dan sabagian rakyat Indonesia tahu atau mendengar bahwa………… sebagian besar kebutuhan GARAM untuk Indonesia harus diimpor (didatangkan/dibeli) dari Negara lain…………………………. Ahh mosok iya to?.

Sangat Ironi dan memalukan ………………… Nusantara yang kawasannya sebagian besar laut dan didalam air laut terkandung berlimpah bahan baku GARAM…………….. dan ……………. Pengolahannya tidak memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang njlimet –ruwet……………….lho kok………….. Indonesia tidak mampu ber-SWASEMBADA GARAM ………..apalagi menjualnya ke Negara lain atau ke manusia lain dimuka bumi ini ………….   suatu ungkapan yang rasional dan manusiawi!

Dalam mengGEREJA, seyogyanya kita rumangsa handarbeki lan didarbeki, melu hangrungkebi, lan mulat sariro angrasa wani:

  1. kita merasa memiliki dan sekaligus merasa dimiliki Gereja/Allah,
  2. kita ikut dan bahkan wajib mengembangkan Gereja, baik pribadi sebagai GerejaNya maupun Gereja sebagai persekutuan (komunitas) Tubuh Mistik Kristus, dan
  3. kita berani melakukan intropeksi diri; yang merupakan proses kebutuhan dan pemenuhan (demand and supply) terhadap kebutuhan diri dan pelayanan pemenuhannya, disamping kebutuhan lainnya yang bersifat manusiawi-kodrati.

Kompetensi diri, pengalaman pribadi, dan Kasih Karunia Allah merupakan potensi GEREJA PRIBADI(diri kita seutuhnya sebagai GEREJA), tentunya dengan bantuan rahmatNya butuh diolah dan ditumbuh-kembangkan untuk mampu melakukan swasembada dalam meng-GEREJAWI baik secara pribadi dan atau bersama umat dan sesama.

Untuk menjadi GARAM DUNIA tentunya kita harus mau menerima tambahan rasa asinnya garam dari sesama, dan punya GARAM serta mau member GARAM KITA baik dari hasil olahan/ produk pribadi dan atau tebaran rasa asinnya GARAM dari sesame…………..karena bagaimana mungkin kita dapat member rasa asin, kalau kita sendiri tidak punya rasa asin?

Menjadi GARAN DUNIA dengan makna menggarami diri pribadi “SWASEMBADA GARAM” dan menggarami sesame sebagai “EKSPORTIR GARAM”, merupakan proses berkelanjutan kapan saja dan dimana saja bahkan sampai ke ujung bumi yang bundar tiada berujung suatu proses yang perlu kebersamaan dan dukungan sesama untuk saling memelihara agar sang GARAM DUNIA tetap asin dan tidak menjadi tawar.

Untuk menjadi GARAM DUNIA kompetensi diri, pengalaman pribadi, dan Kasih Karunia Allah merupakan talenta yang harus ditumbuh-kembangkan dan dibaktikan; mungkin lebih baik kita menjadi Penerima 2 (dua) talenta atau Penerima 5 (lima) talenta saja, dari pada jadi PENERIMA BANYAK TALENTA tetapi kelak senasib dengan hamba yang menerima 1 (satu) talenta yang karena takut lalu mengubur talentanya dalam tanah, dan menerima nasib tragis ‘dicampakkan’ kedalam kegelapan yang paling gelap, meratap,dan kertak gigi (Mat 25:30)

Kornelius Subandi Lingkungan St. Veronika

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *