10 TULAH ALLAH DALAM PERSPEKTIF EKOSISTEM

Kitab Keluaran adalah bagian dari Kitab Suci Perjanjian Lama yang mengisahkan Nabi Musa dalam membawa bangsa Israel keluar dari penjajahan bangsa Mesir. Ada banyak hal yang menarik untuk disimak dalam suka duka pembebasan bangsa itu. Salah satu di antaranya adalah adanya sepuluh Tulah Allah. Dikisahkan dalam bacaan itu, bahwa Allah telah menurunkan sepuluh bencana kepada bangsa Mesir, sehingga pada akhirnya Raja Rameses II dengan terpaksa membiarkan Nabi Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.

Sepuluh Tulah Allah itu dalam Kitab keluaran Bab 7-10 kalau disebutkan secara berturutan adalah (1) air berubah menjadi darah, (2) serbuan katak di permukiman, (3) ribuan nyamuk yang menyerang manusia, (4) serbuan lalat pikat yang menyerang manusia, (5) penyakit sampar, (6) penyakit barah/bisul, (7) fenomena hujan es, (8) bencana belalang yang menyerbu ladang dan pertanian, (9) bencana kegelapan, dan (10) semua anak sulung bangsa Mesir meninggal. Dalam kacamata iman, rangkaian bencana itu muncul sebagai penghakiman dari Allah melalui Nabi Musa kepada bangsa Mesir karena tidak mau membebaskan bangsa Israel, yang selama ratusan tahun mereka pekerjakan sebagai budak. Tetapi apabila dicermati dengan sudut pandang yang berbeda, bencana tersebut bisa dipandang sebagai rangkaian kejadian alam, yang saling terkait, yang pada akhirnya akan membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Tulisan ini ingin mengajak kita melihat rangkaian bencana sepuluh Tulah Alah itu dari sudut pandang ekosistem.

Manusia adalah bagian dari suatu ekosistem. Ekosistem adalah Suatu Sistem/tatanan/kesatuan ruang yang dibentuk oleh jalinan hubungan: interaksi; interrelasi. dan interdependensi antara makhluk hidup dng makhluk hidup dan antara makhluk hidup dengan lingkungan Geologi, Fisik, dan Kimia, yang pada proses di dalamnya selalu ada keseimbangan antara input dan output. Artinya adalah, kalau pada suatu wilayah yang sudah dalam keadaan seimbang, suatu saat menerima suatu masukan atau usikan dari luar ekosistem itu, cepat atau lambat akan membawa perubahan pada wilayah itu, yang pada akhirnya juga akan membawa pengaruh atau bahkan bencana pada manusia dalam wilayah itu.

Secara berurutan, rangkaian bencana sepuluh Tulah Allah itu kepada bangsa Mesir pada waktu itu, kalau dilihat dari kajian ekosistem, berawal dari adanya letusan dahsyat Ggunung Santorini yang ada di utara wilayah Mesir. Letusan yang dahsyat ini mengeluarkan material vulkanik yang kaya akan mineral ke permukaan tanah. Dengan adanya daur hidrologi, akan berakibat material vulkanik ini terbawa oleh aliran air permukaan (run off) dan akan larut dalam cadangan air, baik itu air yang menggenang (embung, danau, atau laut) atau aliran sungai. Material vulkanik ini kaya akan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman, baik itu tanaman mikroskopik di air (fitoplankton) atau tanaman di darat. Pengendapan yang berlebihan material yang kaya mineral pada suatu wilayah/badan air mengakibatkan tanaman mikriskopik dalam air (fitoplankton) tumbuh dengan pesat. Pada keanekaragaman fitoplankton, jenis ganggang merah diduga mempunyai ketahanan yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis fitoplankton yang lain. Akibat pertumbuhan ganggang merah yang sangat cepat ini akan menimbulkan warna merah yang dominan pada badan air (Tulah ke 1)

Pertumbuhan ganggang merah ini sangat pesat dan melebihi kecepatan zooplankton yang biasa memakan fitoplankton. Akibatnya, terjadilah tumpukan “sampah” ganggang merah. Penimbunan sampah organik yang berlebihan, akan mengakibatkan aktifnya bakteri yang ada pada badan air untuk menguraikan “sampah” ganggang merah. Peruraian sampah oleh bakteri ini tentu membutuhkan oksigen yang terlarut dalam air sebagai sumber energi bakteri.. Ini yang disebut sebagai kenaikan Biological Oxygen Demand (BOD). Akibat kenaikan BOD ini maka kandungan Oksigen yang tarlarut dalam air/ Desolved Oxygen (DO) akan semakin berkurang, dan air akan berbau busuk. Penyusutan DO akan mengakibatkan banyak zooplankton atau serangga air akan mati karena kehabisan oksigen. Zooplankton dan serangga air lainnya yang mati, akan meningkatkan laju BOD dan semakin menurunkan DO. Rusaknya ekosistem air akibat penurunan kualitas air (BOD naik dan DO turun) serta kematian berbagai organisme di air, akibat pengkayaan berlebihan dari suatu menieral Inilah yang kita kenal sebagai Eutrofikasi. Eutrofikasi ini akan mengakibatkan migrasinya beberapa hewan dari ekosistem air tawar, antara lain katak. Sebagaimana kita ketahui, katak adalah organisme yang bisa hidup di air dan darat. Akibatnya adalah terjadi lonjakan populasi katak di permukiman (Tulah ke 2) .

Bermigrasinya katak dari air ke darat pada periode tertentu akan mengakibatkan pertumbuhan nyamuk dan serangga air lainnya menjadi berkembang dengan pesat, karena musuh alaminya (katak) populasinya di air semakin berkurang di air. Akibatnya adalah muncul serangan nyamuk (Tulah ke 3) dan serangga lain atau lalat pikat ke permukiman manusia (Tulah ke 4). Serangan nyamuk dan lalat pikat pada manusia ini akan mengakibatkan lemahnya daya tahan tubuh, sehingga badan menjadi setengah lumpuh, atau yang mungkin pada saat itu dikenal dengan penyakit sampar (Tulah ke 5). Gigitan lalat pikat pada manusia disertai pula dengan masuknya telur ke dalam tubuh manusia, yang pada perkembangan berikutnya telur itu akan mengakibatkan bengkak pada tubuh (bisul) , dan akan keluar sebagai larva lalat, atau belatung atau menjadi barah (Tulah ke 6). Serangan barah/bisul ini hanya terjadi pada penduduk Mesir, diduga karena diduga, kondisi badan masyarakat Israel kurus kering, dan berbau, mengakibatkan lalat pikat lebih banyak menyerang penduduk Mesir daripada penduduk Israel.

Gunung Santorini yang meletus secara dahsyat memuntahkan bahan mineral ke udara dan bergabung dengan awan di atmosfer yang kaya akan uap air. Debu vulkanik ini akan berfungsi sebagai inti kondensasi. Akibatnya laju pembentukan titik-titik air akan semakin meningkat, menjadi titik-titik hujan dengan volume yang semakin membesar. Titik titik air yang semakin banyak di udara ini, apabila mengalami pendinginan secara tiba-tiba, akan berubah menjadi fase padat, dan turun sebagai hujan es (Tulah ke 7), Fenomena hujan es ini, apabila jatuh ke darat, akan bisa meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat pertumbuhan semak/ilalang. Pertumbuhan semak/ilalang yang cepat akan menstimulasi perkembangan belalang. Pertumbuhan belalang yang melebihi daya dukung semak/ilalang di padang, akan mengakibatkan migrasinya belalang di lahan pertanian dan permukiman (Tulah ke 8)

Di sisi lain, material debu vulkanik yang terbawa ke permukiman, akan menjadi top soil yang konsistensinya rendah, sehingga sangat mudah terdispersi oleh angin. Diduga, anomali cuaca saat itu memunculkan adanya turbulensi/ pusaran angin/puting beliung, yang mengangkat debu vulkanik itu ke atmosfer sehingga mengakibatkan galap gulita pada wilayah Mesir (Tulah ke 9). Sementara itu, sebagian debu vulkanik, yang kebanyakan juga mengandung unsur logam, akan terdisersi juga ke permukiman warga, termasuk ke lantai rumah.

Pada budaya bangsa Mesir, kebanyakan anak sulung, utamamya yang laki-laki, akan mendapat fasilitas yang lebih baik dibandingkan dengan adiknya. Dalam hal posisi tidur, anak sulung akan tidur pada lantai yang lebih rendah dibandingkan dengan adiknya. Juga terhadap makanan, anak sulung akan mendapat porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan adiknya. Kondisi ini akan mengakibatkan terakumulasinya unsur logam melalui sistem pernafasan dan jalur makanan akan lebih banyak terjadi pada anak sulung dibandingkan dengan adik-adiknya. Biogamagnifikasi atau penggandaan unsur bahan pencemar pada organisme di tingkatan tropik tertinggi melalui jalur rantai makanan ini yang akan mengakibatkan kematian pada anak sulung (Tulah ke 10).

Inilah 10 Tullah Allah yang terjadi di Mesir, yang kalau dilihat dalam kacamata pandang Ekosistem, terjadi akibat adanya proses berantai yang saling mempengaruhi pada komponen ekosistem, yang pada akhirnya mengakibatkan kematian pada manusia. Iman kita meyakini bahwa 10 Tulah Allah itu muncul sebagai bentuk “penghakiman” dari Allah kepada bangsa Mesir untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan.

Tulisan ini tidak berarti mengajak pembaca untuk mengkerdilkan kuasa/hukuman Allah kepada umat-Nya, namun untuk sejenak, dan suatu saat, mengajak berpikir dan menganalisis suatu fenomena di alam. Ekosistem dan lingkungan hidup tempat kita tinggal, adalah suatu sistem yang terbuka. Artinya suatu masukan atau usikan sekecil apapun, akan dapat membawa dampak yang simultan, yang pada akhirnya akan dapat membawa bencana bagi umat manusia. Pembuangan sampah ke selokan dan limbah industri ke badan sungai yang melebihi daya dukung lingkungan, pada akhirnya akan dapat menimbulkan efek berantai sebagaimana terjadi pada bangsa Mesir. Aktifitas masyarakat kota dalam menimbun sampah yang berlebihan di tanah, pada akhirnya menurunkan tingkat kesuburan tanah dan menurunkan kualitas air permukaan dan air tanah, yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat. Aktifitas industri yang membuang limbah udara tanpa melalui filter yang dipersyaratkan, pada akhirnya akan menimbulkan bencana asap dan global warming yang pada akhirnya juga akan menimbulkan kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan juga kematian pada manusia.

Kesemuanya itu, cepat atau lambat, pasti akan akan membawa bencana kepada masyarakat luas, bahkan lebih luas bila dibandingkan dengan bencana yang terjadi di Mesir. Kecerobohan dan keteledoran dalam membuang limbah, rasa acuh tak acuh pada kebersihan di suatu tempat, secara nyata akan dapat membawa musibah yang berkelanjutan baagi suatu wilayah, dan akan bermuara bagi kita semua. Pertanyaannya adalah, apakah bencana ini terjadi juga karena Tulah Allah, atau karena kita sendiri ? Sepertinya, Allah “terlibat langsung” dalam bencana yang dahsyat, hanya pada jaman Nabi Nuh, bencana Sodom dan Gomara, serta kepada bangsa Mesir melalui 10 Tulah Allah. Namun, berbagai bencana dahsyat lainnya, bisa terjadi karena bencana alam, serta juga akibat ulah manusia sendiri. Oleh karena itu, dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup manusia, akan sangat bijaksana apabila kita dapat berpikir global, namun bertindak lokal. Dan ini adalah juga bagian dari revolusi mental, ……dan bukan abal abal. (Hari Soeseno, St Albertus)

 

(bacaan dari beberapa sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *