KETIKA TUHAN MEMANGGILKU

Awal Panggilanku….. Awal mula ketertarikan saya untuk menjawab panggilan Tuhan bermula dari kekaguman atas sosok (alm) RD.Y.B. Mangun Wijaya. Beliau adalah sosok yang sederhana dan inspiratif. Ketika saya duduk di bangku kelas 3 SD, orangtua suka menceritakan kepada saya mengenai karya-karya pastoral RD.Y.B. Mangun Wijaya yang sangat inspiratif. Bidang pendidikan dan kesenian adalah beberapa bidang pastoral yang ditekuni oleh RD.Y.B. Mangun Wijaya untuk mewartakan Kerajaan Allah. Sesungguhnya, saya juga menaruh minat yang sama pada kedua bidang ini. Pendek kata, panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan mulai tumbuh karena adanya kesamaan minat antara saya dengan RD. Y.B. Mangun Wijaya. Akhirnya, saya berkata kepada orangtua bahwa saya ingin menjadi imam seperti RD. Y.B. Mangun Wijaya.

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat dan ketika itu saya berada di tingkat 3 SMP. Ketika itu, saya bersama seorang sahabat berencana untuk melanjutkan pendidikan di SMAN 5 Madiun. Saya sudah berusaha mempersiapkan diri sebelum mengikuti tes seleksi penerimaan siswa baru dengan mempelajari soal-soal latihan yang ada, namun apa daya ternyata Tuhan mempunyai jalan lain. Melalui teman saya, Adam, saya diajak untuk mendaftar di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum, Blitar. Awalnya, saya menolak untuk mendaftar. Saya berusaha untuk mengkomunikasikan hal ini kepada orangtua sembari meminta pertimbangan mereka. Akhirnya dengan bermodalkan semangat arek bonek dan motivasi dari orangtua, saya memutuskan untuk mengikuti tes penerimaan calon seminaris baru di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar. Ketika menjalani tes penerimaan siswa baru, saya mulai belajar mencicipi bagaimana rasanya menjalani kehidupan sebagai seorang seminaris. Bangun pagi, mengikuti perayaan Ekaristi, bekerja, berdoa, dan belajar adalah sekelumit aktivitas yang saya cicipi ketika mengikuti tes penerimaan calon seminaris baru di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar. Ketika itu saya berkata dalam hati, “Ternyata menjadi seorang seminaris apalagi imam bukanlah hal mudah, banyak tantangannya, dan hidup seakan-akan dikejar-kejar oleh waktu karena harus hidup disiplin.” Tanpa saya sadari sempat terbesit sebuah keraguan dalam diri ini, “Apakah saya benar-benar terpanggil?” “Apakah ini adalah keputusan yang terbaik?” “Apakah saya bisa menjalani panggilan Tuhan dengan baik?” Saya juga sempat berpikir bahwa Tuhan itu aneh. “Kenapa saya dibuat bingung seperti ini?” Padahal saya sudah memilih tempat pendidikan yang telah lama saya impikan bersama dengan sahabat. Seakan-akan Dia membelokkan saya untuk menjawab suara panggilan-Nya yang pernah saya rasakan ketika masih kecil. Kumulai Memasuki Gerbang Panggilanku….. Setelah saya menunggu selama satu bulan lamanya, akhirnya saya mendapatkan pemberitahuan bahwa saya dinyatakan lolos dan diterima. Pada tanggal 10 Juli 2010, saya memulai perjalanan panggilan untuk menjadi seorang imam di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo, Garum, Blitar. Tahun awal pembinaan sebagai seorang seminaris saya lalui dengan kerja keras karena masih harus beradaptasi dengan lingkungan seminari dan studi. Bagi saya ini adalah tahun yang penuh perjuangan di mana tuntutan nilai akademis menjadi momok bagi para seminaris. Akhirnya, saya bisa melanjutkan pembinaan di tingkat selanjutnya meskipun harus melalui usaha dan perjuangan yang keras,. Di tahun kedua, saya menjalani pembinaan dengan tingkat adaptasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Pada kesempatan ini saya belajar banyak hal mengenai tugas dan tanggungjawab sebagai fungsionaris. Saya menyadari bahwa menjadi seorang imam pun nantinya akan memiliki tugas dan tanggungjawab yang besar untuk menggembalakan kawanan dombanya. Saya pun mulai memahami arti dari sebuah tanggungjawab melalui wadah fungsionaris ini. Saya merefleksikan bahwa sesungguhnya menjadi pribadi yang bertanggungjawab itu tidaklah mudah.

Seseorang sungguh membutuhkan komitmen dan perjuangan untuk dapat menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Di tingkat ini, saya pun masih belum menemukan gambaran imamat yang jelas. Meskipun saya belum menemukan gambaran imamat yang ideal, namun saya tidak ingin menyerah. Saya senantiasa berusaha mencari gambaran imamat melalui refleksi jurnal mingguan. Di akhir tahun ajaran, panggilan saya nyaris terhambat karena nilai pelajaran Bahasa Latin yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal. Saya sempat merasa pesimis dan putus asa. Akan tetapi, Tuhan masih memberi saya kesempatan untuk berproses di seminari. Saya diberi kesempatan untuk mengikuti remidi. Puji Tuhan, saya bisa lulus ke tingkat yang selanjutnya. Ketika Aku Harus Memutuskan….. Tahun ketiga menjalani pembinaan di seminari membuat saya merasa lebih bisa menyatu dengan proses pembinaan yang ada.

Di tahun ketiga ini pula, saya berusaha untuk berkonsentrasi dan mempersiapkan diri untuk menempuh UAN 2013. Setelah menyelesaikan UAN, saya mulai mengajukan lamaran untuk bisa melanjutkan pembinaan di tingkat empat. Ketika diwawancarai oleh RD. Suryandoko, beliau berkata, ”Jika kelak kamu menjadi seorang imam, gambaran imamat macam apa yang kamu inginkan?” Saya pun menjawab “Karena saya adalah orang yang pendiam maka saya ingin menjadi imam yang kontemplatif seperti seorang imam karmelit.” Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima pemberitahuan bahwa lamaran saya diterima. Saya memiliki harapan agar di tingkat selanjutnya dapat lebih memantapkan panggilan untuk menjadi seorang imam yang baik. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini tibalah saya pada tingkat akhir pembinaan di Seminari Menengah Garum. Di tingkat akhir ini, saya mulai mencicipi rasanya bekerja sebagai pelayan Tuhan. Saya belajar mengenal kehidupan umat di Stasi Kali Tengah dan mengajar di SDK Santa Maria, Blitar. Saya berusaha untuk mengenal umat, mengetahui kebutuhan mereka, dan merasakan kerinduan mereka akan kehadiran sosok imam. Saya merasakan bahwa tenaga imam sungguh dibutuhkan oleh umat, terlebih bagi mereka yang berada di pelosok-pelosok daerah.

Melalui refleksi pastoral ini, saya merasakan bahwa Keuskupan Surabaya masih membutuhkan banyak tenaga imam untuk menggembalakan umat. Terdorong oleh penyadaran ini, saya sungguh merasa terpanggil untuk berkarya bagi umat di Keuskupan Surabaya. Perjumpaan saya dengan umat Stasi Kali Tengah ketika melakukan kegiatan pastoral semakin mengobarkan api panggilan untuk terus berproses menjadi seorang imam yang baik nantinya. Hal yang sama juga saya jumpai ketika mengajar di SDK Santa Maria, Blitar. Banyak anak muda masa depan Gereja membutuhkan pendampingan frater dan imam. Saya merasakan bahwa dewasa ini pendidikan Katolik mulai luntur kualitasnya. Sekarang banyak anak muda masa depan Gereja lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah negeri daripada di sekolah Katolik. Saya sangat menyayangkan hal ini, terlebih di daerah asal saya, Madiun. Sesungguhnya, saya menaruh minat pada bidang pendidikan dan kesenian. Saya berharap kehadiran saya di Keuskupan Surabaya nantinya dapat memberikan sumbangsih yang berguna, salah satunya dalam bidang pendidikan. Dengan bermodalkan berbagai pengalaman pastoral selama berproses di Seminari Garum, Stasi Kali Tengah, dan SDK Santa Maria, Blitar, saya semakin mantap untuk menjawab panggilan Tuhan. Kemantapan dalam panggilan sungguh memampukan saya untuk menemukan gambaran imamat sebagai seorang imam kelak. Setelah melalui proses permenungan yang panjang, saya menemukan sebuah jawaban bahwa Tuhan memanggil saya untuk berkarya bagi Gereja Keuskupan Surabaya. Dalam benak saya tersimpan sebuah teka-teki, “Mungkin Tuhan mengarahkan saya untuk menjadi seorang imam diosesan yang mengabdi kepada Gereja Keuskupan daripada menjadi seorang imam-biarawan Karmelit.

Akan tetapi, saya percaya Tuhan mempunyai rencana yang indah. Bagi saya, panggilan menjadi pelayan Tuhan adalah sebuah anugerah yang patut untuk disyukuri. Saya hanyalah seonggok daging yang tidak berdaya, namun Kasih Tuhanlah yang menuntun dan memampukan saya untuk menjadi seorang imam yang setia dan murah hati. Akhirnya….. Menjalani panggilan sebagai pelayan Tuhan memang tidak mudah. Lika-liku perjalanan panggilan yang ada semakin meneguhkan panggilan saya. Peneguhan ini sungguh menghantarkan saya pada sebuah keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertai perjalanan panggilan saya. Ia tidak akan pernah meninggalkan saya sendirian dalam menjalani panggilan-Nya. Berbagai pengalaman yang saya dapatkan selama berproses di Seminari Garum, Stasi Kali Tengah dan SDK Santa Maria, Blitar sungguh mendorong saya untuk semakin giat membina diri sebagai calon imam diosesan Keuskupan Surabaya. Mungkin kedepannya, akan ada begitu banyak tantangan dalam proses menjalani panggilan Tuhan. Meskipun begitu, saya tidak ingin menyerah. Saya akan senantiasa berusaha untuk memupuk semangat optimis dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada. Sebagai seorang manusia biasa saya akan terus berusaha untuk mempersembahkan anugerah panggilan ini hanya kepada Tuhan. Saya percaya bahwa di dalam terang kasih-Nya, saya akan dimampukan untuk menemukan kehendak Ilahi atas panggilan hidup yang kini saya jalani. In nomine Christi – di dalam nama Kristuslah semangat panggilan saya akan terus berkobar untuk mengikuti jejak pelayanan Yesus, Sang Gembala Yang Baik.

Andreas Putra Krishananta

(Formandi Seminari Tinggi Providentia Dei Surabaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *