Mewarnai Dunia

Dua kekuatan yang mewarnai dunia *)

Keadaan dunia yang begini ini ada yang mewarnai, menurut pakar filsafat ada 2 (dua) kekuatan yang mewarnai itu dialah AGAMA dan FILSAFAT.

AGAMA: yang menekankan rasa segi iman atau kepercayaan, dan filsafat (dari agama) yang menekankan segi agama sebagai peraturan/ajaran/dogma tentang cara hidup.

Kombinasi keduanya merupakan suatu ‘sistem kepercayaan’, dan dalam praktek (pelaksanaan)’sistem kepercayaan’ tersebut ditekankan bahwa: kehidupan lahir dan batin penganutnya harus sesuai dengan kepercayaan dan ajaran dari ‘sistem kepercayaan’ tersebut.

FILSAFAH: kata filsafah berasal dari kata Arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, yang asalnya memang berasal dari kata Yunani ‘philosophia/ philo-sophia’, philos yang artinya cinta dalam arti luas keinginan dan usaha untuk mencapai yang dicintainya dan Sophia artinya kebijakan yang mengandung pengertian pandai disertai pengertian mendalam, bahasa jawanya ‘pinter lan ngerti’.

Filsafat dapat diartikan keinginan (tentunya disertai usaha) untuk menjadi pandai dan cinta kebijakan, atau keinginan yang mendalam mendapatkan kebijakan untuk menjadi bijak.

Bagaimana dengan sains dan teknologi (IPTEK), apa IPTEK tidak ikut serta mewarnai dunia? Jawabnya TIDAK!. Sains dan teknologi tidak ikut mewarnai dunia: sains dan teknologi yang berkembang cepat terutama diera dan globalisasi saat ini hanya sebagai sarana (instrumen) yang bersifat NETRAL; bagai pisau bermata dua ‘sains dan teknologi’ bermanfaat dan dimanfaatkan dalam mewarnai dunia untuk merubah menjadi baik atau sebaliknya.

Kalau Garam Dunia-Terag Dunia- Ragi Dunia, apa ikut mewarnai dunia?, jawabnya Jelas ikut serta mewarnai dunia!. Sebagai ‘pewarna dunia yang baik’ sebaiknya dunia kita jadikan berwarna apa yaaa….?

Perlu disadari bahwa: dunia yang diwarnai bukan kawasan dan sesame yang tersebar antara 3 samudra dan 5 benua lho, cukup lingkungan dan masyarakat disekitarmu saja!

Yesus (dan kita) mewarnai dunia

Sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan “Perjamuan Terakhir di Hari Kamis Putih” dimana penulis Injil dan para Rasul hadir sebagai saksi hidup (waktu itu), merupakan awal “KRISTUS SANG GARAM DUNIA” mewarnai dunia ‘warna hidup bernuansa KASIH’ bak bola salju berkembang mendunia dari masa ke masa, dan dari generasi ke generasi dan berlanjut kini sampai akhir jaman.

Warna hidup bernuansa KASIH menjadi tradisi ‘BUDAYA ADILUHUNG GEREJA KRISTUS’ yang turun temurun dan lestari terjaga eksistensi warna kasihNya “ROTI sebagai TUBUH KRISTUS, dan ANGGUR sebagai DARAH KRISTUS”.

Suatu kebanggaan ………..Puji Tuhan…….. Gereja tubuh mistik Kristus yang apostolic (menjadi tradisi suci) dan satu kudus katolik tetap konsisten menjaga dan mewariskan karunia Ilahi Sang Maha Luhur kepada kita sekalian, Karunia Luhur dan Adiluhung yang perlu dan kita berdayakan/optimalkan menjadi kekuatan kita dalam mewarnai dunia.

Mewarnai milikNya

Bukan menjadi dunia berwarna hitam kelam atau putih memplak atau warna lainnya!!, tetapi menjadikan dunia diwarnai nuansa KASIH yang penuh pancaran kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22-25).

Mewarnai Dunia kita,

Bukan dunia milik kita lhoooo….? Tetapi milikNya; perlu dieling menawa nyawa lan ndinyo gandhuhaNE, bedha-donyo among titipanNE, nyawa kita dan dunia ini milikNYA, harta kekayaan hanya titipanNYA.

Puji GUSTI kita dipercayaNYA untuk mewarnainya, matur nuwun konjuk Gusti.

Ngrumangsanana!

 

Kornelius Subandi (ling. St. Veronika)

*) ref: Filsafat Umum, Prof.DR.Ahmad Tafsir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *